Evaluasi Pemberian Terapi Oksigen Dan Posisi Supine 45 Derajat Terhadap Stabilitas Hemodinamik Pasien Anak Dengan Community Acquired Pneumonia dan Perdarahan Saluran Cerna
DOI:
https://doi.org/10.37362/jkph.v11i1.787Keywords:
evaluation of oxygen therapy administration, 45-degree supine position, hemodynamic stability of pediatric patientsAbstract
Pneumonia menyumbang angka kesakitan yang tinggi dengan lebih dari setengah juta kasus yang dilaporkan setiap tahunnya pada anak usia di bawah lima tahun di Indonesia. Efektivitas oksigenasi pada pasien anak tidak hanya ditentukan oleh metode pemberian oksigen, tetapi juga oleh posisi tubuh selama perawatan. Berbagai posisi seperti prone, semirecumbent, fowler, dan lateral terbukti dapat meningkatkan saturasi oksigen, menstabilkan hemodinamik, dan mencegah kejadian ventilator-associated pneumonia (VAP). Tujuan dari tulisan ini, untuk menjelaskan Evaluasi Pemberian Terapi Oksigen dan Posisi Supine 45 Derajat terhadap Stabilitas Hemodinamik Pasien Anak dengan Community Acquired Pneumonia dan Perdarahan Saluran Cerna. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus terhadap An. A, pasien perempuan usia 4 tahun 7 bulan dengan diagnosis Community Acquired Pneumonia dan perdarahan saluran cerna. Intervensi yang dilakukan adalah pemberian oksigen 8 liter/menit melalui Simple Mask dan perubahan posisi menjadi supine dengan elevasi kepala 45°. Parameter vital signs dan saturasi oksigen dipantau setiap 30 menit. Berdasarkan hasil studi kasus yang dilakukan terhadap seorang pasien anak dengan diagnosis Community Acquired Pneumonia dan perdarahan saluran cerna, maka hasil penelitian menunjukkan bahwa; pemberian oksigen melalui Simple Mask dengan aliran 8 liter/menit yang dikombinasikan dengan posisi supine elevasi kepala 45° memberikan dampak positif terhadap stabilitas hemodinamik dan oksigenasi pasien selama fase awal observasi. Terjadi peningkatan tekanan darah dan MAP, penurunan frekuensi nadi dan napas, serta peningkatan saturasi oksigen secara signifikan hingga mencapai kondisi stabil selama kurang lebih 4 jam. Namun, efektivitas intervensi menurun pada fase akhir meskipun alat bantu pernapasan telah ditingkatkan, mengindikasikan bahwa intervensi lanjutan lebih invasif mungkin diperlukan pada kondisi yang memburuk. Secara keseluruhan, kombinasi terapi ini terbukti bermanfaat sebagai tindakan awal yang efektif, aman, dan dapat diterapkan di ruang IGD anak untuk pasien dengan kondisi serupa.